Friday, December 13, 2013

Surat Tersirat

Sejujurnya aku bingung harus mulai dari mana.

Mungkin pertama-tama aku harus berterima kasih karena kamu telah mengizinkan aku untuk membaca jurnal harianmu. Isinya sedikit banyak membuatku tertawa dan juga terdiam. Iri, senang, dan juga sedih.

Oleh karena itu, izinkan aku juga bercerita mengenai diriku.

Sunday, March 10, 2013

Bleeding Love


It hurts.
When I already give in, finally accepts that I’m really in love with this guy.
That no matter how many fights we’ve been into, we always make up and be good again.
That I finally trust he’s the one that accept the way I am, loving me both good and bad, teach me to be a better person, to stand tall against all odds, keep me down when I fly too high and pull me up when I am down.

It hurts.
That finally, I believe in marriage, that I believe no matter what kind of my ideal husband criteria, he’s most probably the one for me. The one that will share life both in sorrow and joy, the one that will be the father of my kids, the one that will be my leader and partner.

It really hurts.
That I have decided to choose him over the other men that could possibly be with me. That God has answered my pray of loneliness by the presence of him by my side. That I still think it’s kind of miracle that we are together against all the differences.


And now we are facing this thing.


Maybe that’s why I’m feeling so insecure nowadays.
I’m scared of losing him. I want to be by his side as long as I can be. I’m afraid he will fall for another woman. I suddenly get jealous with all his female friends that are together with him. I feel insecure whenever he asks me to remind him not to find another girl. I am sad that I don’t accepted the way I am by his family. I am sad that when my mother seems like she trusts him and his family to take a good care of me but most likely it didn’t happen like what we expect to be.
I hate to say this but I think I know that it will be very difficult to win his mother’s heart. I will be the evil woman that will take her son away, and with this inability to explain things clearly and be friendly with new people, I will have a lot of disadvantages in my sides.


I don’t know about the future, but I’m not ready to lose him. Not now.
Not when he already took me so deeply in this thing called love, and I have rearranged my future just for him, and I have already learned to love him and behave.
I am still going to try to work things out. But if it doesn’t work, you know what’s left to me.


Shattered pieces of my broken heart.

Monday, August 20, 2012

Curahan hati paling jahat

Jangankan kehilangan sahabat, kehilangan teman pun rasanya sudah sebegini menyakitkan.
Rasanya semua jadi bias, sudut pandang siapa yang benar aku pun tak tahu.
Tiba-tiba yang kukira sahabat, mulai beralih ke sudut lain. Sementara yang awalnya kuanggap hanya teman biasa, justru memilih untuk tinggal.

Mungkin aku terlalu peduli, mungkin terlalu banyak yang aku korbankan untuknya
Mungkin aku terlalu berprasangka buruk, mungkin aku hanya tidak ingin melihatnya lagi
Yang jelas, ternyata aku sakit hati ketika ia menceritakan pada orang-orang,
Orang-orang yang kini ia anggap sebagai teman dekatnya itu,
bahwa aku yang memulai segala ini, bahwa aku yang menusuknya dari belakang,
bahwa aku mencoba merebut kekasihnya, bahwa ia masih peduli kepadaku namun aku tidak mau menggubrisnya, bahwa ia memaafkanku namun tidak terlalu bodoh untuk menerimaku kembali.

Bukankah seharusnya itu kalimat yang diucapkan olehku?
Mengapa sudut pandang kita tertukar?
Ceritamu adalah lanjutan kisah hidupku, kamu perlu tahu itu. Aku lebih tahu itu daripada kamu.
Setidaknya jika kamu memang benar-benar telah membuangku dari hidupmu, buanglah aku secara seutuhnya. Sama seperti aku yang ingin membuangmu sepenuhnya dari hidupku.
Hentikan memutarbalik fakta, apakah kamu begitu kesepiannya sehingga kamu membutuhkan semua orang untuk berada di sisimu?
Apakah kamu ingin membuatku merasakan hal yang sama denganmu?
Berhentilah menceritakan apapun tentangku, berhenti menyebut namaku, berhentilah menanyakan kabarku hanya untuk membuatmu merasa menang, aku tidak butuh pandangan kasihan dan pikiran negatif orang-orang tentang aku.

Hanya aku yang tahu kisah ini, pandanganmu terlalu bias oleh cinta butamu.
Kamu buta, kamu terlalu tolol, kamu terlalu menggunakan perasaanmu untuk berpikir.
Sehingga berapa orang yang sudah kamu sakiti?
Sampai pada akhirnya kamu berkata, kamu sudah tidak peduli lagi, karena lelah harus mengalah dan memikirkan perasaan semua orang.

Jujur aku tanya, kapan kamu pernah memikirkan perasaan kami? Perasaan (mantan) teman-temanmu?
Toh dari awal kamu hanya menganggap kami sebagai teman biasa bukan, teman yang hanya diperlukan saat senang atau kamu sedang sedih.
Kami tempat sampahmu bukan? Kalau begitu mungkin kamu sampahnya.

Ya, kamu menang.
Ambil saja semua teman-teman di kampus. Toh kamu bebas menceritakan kisah ini dari sudut pandangmu, lalu mereka akan iba. Lalu mereka akan jatuh hati pada gayamu yang supel, yang murah hati, yang cepat akrab dengan orang.
Dan aku ? Aku akan selamanya menjaga nama baikmu, dengan tidak menceritakan sisi lain dari cerita ini kepada teman-teman di kampus. Mereka juga tidak akan percaya kan?
Kamu yang selalu benar bukan?

Mungkin, karena ini, aku akan kehilangan satu orang teman baikku lagi.
Satu orang yang pernah selalu ada di saat-saat terbawahku, pernah berada di sisiku, namun kini lebih memilih berada di sisimu.
Aku tidak akan melarangnya, semua itu pilihan hidup. Aku hanya berterimakasih padanya, karena pernah ada untukku.
Namun untuk selanjutnya, aku akan mempertahankan orang-orang yang aku sayangi. Yang menghargaiku apa adanya, yang mengingat hal-hal kecil yang pernah kuucapkan.

Awal semester baru nanti, aku akan melupakanmu.
Ya aku memang tidak pernah menganggapmu sahabat, hanya teman dekat yang terlalu banyak kumanja.
Selamat tinggal mantan teman, aku telah menyampaikan salam maafku padamu.
Terbayar sudah kewajibanku. Mungkin memang aku yang salah, aku yang tidak bisa terus menerus mencurahkan hidupku untukmu, tidak mau berada dalam bayangmu, tidak sudi peduli dan berbahagia untukmu. Jadi selamat tinggal, semoga aku tidak perlu terus memikirkanmu.

Wednesday, July 04, 2012

After A Long Time

yesterday I went out with Di after quite some time we didn't have quality time together.
In fact, it's our first hang out after about 3 years ago. Because everytime I met him before, he always brought his friend along with him.

and guess what?
As I thought, he already broke up with his girlfriend, Andin. He always remained silent everytime I mentioned her name as if he wanted to say something but held it inside. His eyes looked sad even though he smiled.
To be honest, it broke my heart too. To see my friend's face like that, it's really heartbreaking. And I do like Andin, I thought they're perfect couple and I truly wish for their happiness. Even when I had a feeling that something's not right, I did pray that it won't happen.
But still, it happened. :(
Well, I hope you'll find your true love soon, Di. :)

Anyway, he told me that he's still not sure about his flight on 8th. And he will go with all his family. And no other students come along with him.
And that means if I come to the airport to send him off, I will be the only one who do this. -__-"
But still, I wish I can make it. I don't want to be separated with my friend without saying goodbye, without a proper goodbye. I know it will be only a year, but I don't want it to end like it was before, when he left to Singapore.
Remember, blog, what I've told you? Yeah, after telling him to go (in our usual fight), he left. And I regretted it for not making a proper goodbye. Thus, I buried that bad memory inside my brain and forgot him until he came back.

Also, I felt like telling him about my life. Or listened to his daily life story.
But no one asked. Nobody started to tell.
Most of the time we remained silent and got busy with our gadget.
That made me sad to be honest.

I realized I've yet to overcome him. No matter how hard I try in my study.
I still can't beat him. And he wouldn't recognize my achievements either. That's annoying. =/ But since I know how Scorpion's habit is, it's actually normal.

I should try harder, so maybe sometimes he will recognize my achievement and admit that veterinarian is important too. LOL. maybe.



Friday, June 01, 2012

Last Farewell

Jika ada sesuatu yang aku sesali dan aku benci kehilangannya, hal itu adalah kenangan dan sahabat yang hilang.
Suatu kenangan selalu bersifat personal, karena itu suatu kenangan tidak boleh dibagi kepada orang asing. Karena orang yang tidak terlibat dalam kenangan tersebut tidak akan mengerti, betapa berharga dan personalnya suatu kenangan tersebut. Seburuk apapun suatu kenangan, hal itu tetap bersifat personal. Hal itu lah yang selalu aku pegang.

Lalu sahabat yang hilang, aku sudah merelakannya.
Seorang sahabat sejati tidak akan pernah pergi, karena itu aku merelakannya pergi.
Aku merelakannya pergi karena ia berani menyakiti sahabatnya sendiri demi kepuasannya pribadi. Aku merelakannya pergi karena aku tahu, suatu saat nanti ia akan menyakitiku juga. Dan aku merelakannya pergi karena dia mudah digoyahkan.

Seorang sahabat yang lain, aku tidak tahu mengapa, namun sepertinya ia menjauhiku.
Aku tidak tahu apa kesalahan yang kuperbuat, namun aku juga tidak berniat untuk mencari tahu. Ia telah aku relakan pergi pula, bersama sahabatku yang lain. Mungkin aku tidak bisa mengerti dirinya, aku tidak bisa bahagia untuknya, aku lelah harus mengikuti gaya hidupnya.

Sudahlah, hidup ini sudah terlalu banyak dipenuhi drama.
Aku tidak membenci mereka, tidak bermasalah dengan hubungan mereka, tidak peduli dengan mereka. Tidak bermasalah pula dengan sahabat yang telah aku relakan sebelumnya.

Hanya saja bila memang hubungan persahabatan kami ini memang tidak bisa diteruskan, lebih baik benar-benar kita akhiri. Lalu aku dan dia akan menjadi kedua orang asing yang berada di suatu lingkungan yang sama. Kenal, namun tidak benar-benar mengenal. Kenal namun tidak perlu saling mempedulikan kehadiran satu sama lain.


Aku tidak masalah apakah kami akan terus menjadi orang asing seperti ini atau tidak. Satu hal yang aku sedikit sesali adalah dengan begitu hubunganku dengan teman-teman yang lain pun akan menjadi sedikit canggung. Kecanggungan itu yang aku benci.

Sudahlah. Tak usah menebar benih kebencian.
Hidup ini sudah terlalu pelik untuk ditambahi permasalahan sepele seperti ini.
Yang jelas, jika ada seseorang yang harus menunduk kalah, orang itu bukan aku.

Thursday, March 08, 2012

Jika

Setelah sekian lama tanpa komentar, tanpa penyesalan, tanpa ada apapun, tiba-tiba aku terpikir...

Apa jadinya jika dulu, orang ketiga itu tidak muncul?
Apa jadinya ketika orang yang kuanggap sahabat itu tidak muncul dan mendekatinya?
Apa jadinya ketika mereka tidak melakukan pendekatan di belakangku?
Apa jadinya apabila hingga kini aku masih bersamanya, tanpa ada gangguan dari orang itu?
Akankah semua jadi lebih baik untukku, untuknya, dan untuk orang itu?

Apabila dulu ia tidak menusukku dari belakang, dan aku tidak berpura-pura tersenyum seolah tidak peduli, akankah aku dan orang itu masih bersahabat hingga kini?
Akankah persahabatan kami diwarnai rasa peduli yang tulus, bukan penuh kemunafikan seperti saat ini?

Namun jika saat ini aku masih bersamanya,
aku tidak akan pernah bisa memilih untuk bersama dirinya,
laki-laki yang aku sayangi.

Jika ini semua tidak terjadi,
aku tidak akan tahu sifat asli orang itu


Sungguh, demi apapun juga,
aku tidak pernah merasa muak kepada seseorang semuak aku kepada orang itu saat ini.
Sungguh aku tidak pernah menggunakan kata 'orang itu' untuk mendeskripsikan seseorang yang teramat dekat denganku -- ini sebuah penghinaan, di mataku, aku pun tak tahu mengapa aku berbuat seperti ini
Tak pernah sebelumnya, aku pernah berharap seseorang akan lenyap, hilang dari pandanganku. Sungguh aku pun takut dengan sisi diriku yang sangat, sangat jahat

Mungkin aku terlalu lugu
Mungkin aku terlalu idealis dan naif
Tapi sungguh, selama aku menjalin pertemanan dengan teman-temanku yang lain,
Aku tak pernah sebegini putus asanya
Aku tak tahu lagi ini kian ke berapa aku memutuskan untuk diam dan menjauh
Hanya karena takut mengeluarkan kata yang menyakitkan hatinya
Meskipun itu fakta, fakta yang pahit

Namun aku tahu,
Pada akhirnya hanya aku lah yang salah
Karena di matanya, semua yang ia lakukan memiliki alasan yang benar
Ia tidak akan pernah mendengar pendapat orang
Karena ia berhak bahagia, dan sekuat tenaganya ia akan berusaha mempertahankan kebahagiannya

Namun bukankah aku juga berhak bahagia?
Aku tidak pernah bermaksud merebut kembali apa yang telah lepas, tidak.
Aku tidak akan pernah sepicik itu

Namun salahkah aku apabila aku menginginkan persahabatan yang murni?
Sahabat yang tidak hanya ada ketika ia sedang butuh
Sahabat yang tidak membelimu ketika ia sedang senang
Sahabat yang siap mengangkatmu ketika kau terpuruk
Sahabat yang tulus berbahagia ketika dirimu bahagia
Sahabat yang memperhatikan setiap detil ceritamu, berusaha mengingat detil kecil dari hidupmu
Atau setidaknya berusaha untuk mencari tahu tentang dirimu

dan tidak akan pergi di saat kau benar-benar terpuruk.


Mungkin aku tertipu oleh fatamorgana
Ilusi mata yang telah ia desain sedemikian rupa

Mungkin kacamata ini terlalu bias oleh airmata
Sehingga kenyataan yang sesungguhnya kini tidak jelas

Kehilangan dua sahabat sekaligus itu sungguh,
sakit rasanya.

Dan kini,
setelah semua ungkapan jika, andai, dan apabila dikubur dalam-dalam,
para pelakon kembali mengenakan topeng mereka
dan tirai panggung sandiwara pun siap dinaikkan.

Selamat datang di sandiwara kehidupan.

Sunday, February 05, 2012

maaf

jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara denganmu
maka aku akan meminta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam
jikalau sekiranya aku punya salah (yang aku yakin pasti ada)
jikalau sekiranya aku sangat mengganggumu
jikalau aku membuatmu membenciku

jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara denganmu
maka aku akan berterima kasih dari lubuk hatiku yang paling jujur
karena darimu aku belajar untuk mensyukuri alam ini
karena darimu aku belajar untuk mencinta tanpa pamrih
karena darimu aku belajar banyak hal mengenai hidup

jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara dan bertemu denganmu
maka kali ini tak akan ragu aku untuk
mengatakan perasaanku yang sebenarnya
mengutarakan isi hati yang terpendam lebih dari dua tahun lamanya
bahwa aku menyayangimu

entah sebagai kakak, sahabat, atau murni sebagai lelaki
yang ku tahu hanya ada dirimu dalam masa depanku
hanya ada sosokmu yang kuinginkan di sampingku

namun semua itu tak akan bisa terjadi

bila aku tak bisa berbicara denganmu lagi
maka kumohon,
usai lah marahmu, hapuskan egomu
terima teleponku

karena aku sungguh mengkhawatirkanmu kawan.

maafkan aku karena kelancanganku
aku hanya ingin kau tahu bahwa aku peduli.

(5 Februari 2012, untuk dirimu.)

Friday, February 03, 2012

15 Minutes Conversation


15 Minutes Conversation

“Halo, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawabmu pendek.
“Apa kabar?”
“Aku merasa normal.”
“Merasa normal?” Aku mengulum senyum. “Memangnya kamu tidak normal?”
“Kata orang aku tidak normal.”
“Itu kan kata orang, bagaimana menurutmu?”
“Aku merasa baik-baik saja. Namun orang-orang tetap menyuruhku minum obat.”

Aku diam.
“Aku terdengar cadel nggak?”
“Nggak tuh. Memang kenapa?”
“Gara-gara obat ini lidahku jadi cadel.”
“Aku mendengarmu normal.”
“Benarkah?”
“Ya. Percayalah padaku.”

Lalu keheningan kembali mengisi percakapan kami. Percakapan ini tidak pernah terpikir akan menjadi rutinitas di antara aku dan dia. kami tak pernah terbiasa meluangkan waktu untuk bercakap-cakap, namun kini aku setidaknya berusaha untuk menghubunginya beberapa hari sekali.

“Aku rindu kampus kita.” ucapnya memecah keheningan. “Aku bosan di sini.”
“Kembalilah kalau begitu. Kapan kamu akan kembali?”
“Maret, mungkin. Atau April.”
“Secepat itu?”
“Ya, ada banyak urusan yang tertunda di sana.”
“Kamu sudah siap kembali?”
“Entahlah.”

Aku menghela napas.
“Mantapkan dulu hatimu. Aku tidak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama.”
“Setidaknya aku masih punya orang yang akan mendukungku bukan? Benar begitu, Alina?”

Aku tersenyum getir. Bicara apa dia ini.
“Kau tahu pasti aku akan mendukungmu. tapi hanya jika kamu benar-benar mantap. Aku tidak mau aku jadi gila karenamu.”
“Memang aku bisa membuatmu gila?”
“Sekarang pun rasanya aku sudah gila karenamu.”
“Hahaha…” Dirimu tertawa. “Jangan begitu.”
“Kalau begitu maka cepatlah sembuh, lalu kembali ke sini. Kau tahu aku menunggu.”
“Aku tahu.”

“Alina, kamu mau sampai kapan duduk di pojokan seperti itu?”
Aku menoleh. Di ambang pintu kamarku, Ibu berdiri sambil berkacak pinggang. Aku tersenyum.
“Daripada kamu melamun seperti itu, lebih baik kamu bantu Ibu!”
“Ibu, aku sedang menelepon.” jelasku.
“Menelepon siapa? Lihat tanganmu, kamu bahkan tidak memegang telepon genggam.”

Aku menatap kedua belah tanganku. Benar juga, satu-satunya benda yang kupegang hanyalah secarik kertas bertuliskan deretan angka.
“Alina, sudahlah, berhenti berlaku seperti itu. Ibu khawatir kalau Ibu harus membawamu ke psikiater.”
“Hahaha…” Aku hanya tertawa getir. “Ibu, tampar aku jika aku berlaku seperti ini lagi.”

“Aku tidak ingin gila, Ibu. Namun aku lelah karenanya.”

Ibu memelukku erat. “Jangan khawatir Alina sayang, Ibu pastikan untuk menjagamu. Bertahanlah.”

Aku mengangguk pahit.

15 menit percakapan kita
Rupanya hanya khayalan semata.



Sepucuk Surat Yang Tak Terkirim

Ketika tekadku bulat untuk meninggalkanmu,
Ketika mantap hatiku untuk fokus pada hidupku sendiri,
kabar itu datang.

Kalau kau ingin tahu apa rasanya, sungguh kabar itu bagai petir di siang bolong.
Tak terduga.

Kupikir jika selama ini kita jarang bertemu, itu hanya semata karena dirimu yang terlalu sibuk dengan urusanmu, dan aku yang sibuk dengan urusanku.
Lalu temanmu memberitahuku, bahwa dirimu tak pernah lagi hadir di kampus kita tercinta. Tak lagi ikut ujian. Dirimu sakit, ucapnya.

Kau tahu betapa cemasnya aku? Betapa khawatirnya diriku?

Dan ketika akhirnya aku bertemu denganmu (yang perlu kau tahu, susahnya minta ampun), kamu bilang padaku bahwa kamu memang sakit.
Sakit jiwa.

Tahukah kamu bahwa saat itu mati-matian aku menahan emosi dan air mata?
Saat itu aku marah kepadamu. Marah karena kamu tidak pernah bilang apa-apa. Marah karena aku tidak pernah menyadarinya. Marah karena tiba-tiba kamu bilang kamu harus pergi--cuti kuliah 2 semester.

Dan dirimu hanya tersenyum lemah, seraya mengucap kata terima kasih.
Bagaimana aku bisa marah kepadamu?

Aku kalut.
Ingatkah dirimu, kak? Saat itu pertama kalinya aku marah kepadamu, ketika biasanya aku selalu saja tersenyum.
Saat itu aku setengah berteriak kepadamu, mungkin suaraku tidak keras, namun setidaknya nadaku seolah menghardikmu. Maaf.
Aku bilang, mengapa kamu tidak pernah bilang apa-apa? Mengapa tidak pernah berbagi masalahmu? Mengapa tidak pernah cerita kepada orang lain? Padahal banyak sekali orang yang khawatir denganmu. Banyak sekali orang yang sayang kepadamu.
Aku dan teman-temanmu yang lain, selalu berusaha menguatkan dirimu. Karena kita senasib, dan kita harus saling menguatkan.

Maka kuatlah kak, kuatlah
Aku tahu kamu bukan laki-laki yang lemah
Laki-laki yang dulu kukenal adalah laki-laki yang di matanya terpancar semangat dan rasa keingintahuan
Yang dari bibirnya selalu mengalir lagu-lagu bernada indah
Yang meski selalu diam, namun kala ia bicara selalu mengalir kata-kata bijak dan cerdas

Kuatlah kak,
Kamu tak sendiri
Aku akan selalu ada, begitu pun teman-teman yang lain
Adik-adik kelasmu yang selalu kagum padamu
Kakak-kakak kelasmu yang menyayangi adik kelasnya satu ini
Teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangatimu

Ingatlah,
manusia tidak hidup sendiri
Dan apabila kamu tak sanggup menghadapi masalahmu sendiri
Meminta bantuan orang lain bukan berarti lemah


Kuatlah,
karena aku di sini pun mencoba untuk kuat
Mencoba untuk bertahan dan memutuskan untuk percaya

Dan kini, semua tergantung kepadamu
Selamat berjuang
Kami mendoakan kesembuhanmu
Aku berjuang melawan rindu


Dan saat nanti dirimu kembali,
Yakin lah,
Aku akan tetap di tempat itu dan menunggumu


(untuk laki-lakiku tersayang)

Sunday, December 11, 2011

Berpisah Sejenak

Dan sebenarnya aku telah letih akan semua ini.
Letih aku merasa rindu sepihak.
Letih aku merasa bahagia sepihak.
Letih karena selalu mengira, bahwasanya apa yang sebenarnya ada dalam benakmu. Apa yang kamu pikirkan tentangku?

Bukannya aku tidak sabar menunggu, sungguh tiada laki-laki lain yang kuinginkan selain dirimu. Sungguh betapa ingin bibir ini mengucap aku mencintaimu. Namun selalu kutahan, hanya karena aku tidak ingin membebanimu.

Aku tahu, begitu banyak hal lain yang lebih penting dari hubungan ini. Aku pun berpikir sama. Karena itu ketika kamu berkata tunggulah, maka aku menunggu. Bahkan ketika kamu tidak berkata apapun, hati ini terus menunggu. Bukan aku yang mau, namun apa daya hati ini menolak yang lain.
Dan tanpa terasa, di masa depanku hanya ada kamu. Dan aku pun berlari ke arahmu, semula kencang namun kini tertatih, berusaha menggapai sosokmu yang entah mengapa, kian menjauh.

Adakah aku pernah terbersit dalam benakmu?

Sungguh, berapa kalipun aku mencoba berpaling, aku tak bisa.
Bukan aku letih menunggu, hanya aku takut, aku takut menganggumu.
Aku tahu tak ada tempat bagiku di benakmu kini. Aku mengerti, karena itu aku tak pernah meminta.
Bukankah aku selalu tersenyum saat bertemu denganmu? Dan menekan segala egoku.
Terima kasih atas secercah bahagia yang kurasa setiap kali ku bersamamu,. Terima kasih atas segala pengetahuan yang kau berikan padaku. Terima kasih karena menjadi penyemangatku.
Aku akan terus menunggumu, namun tak akan aku tunjukkan hingga saatnya nanti.

Biar Allah yang tahu, bahwa dalam setiap sujudku kudoakan dirimu. Lelakiku tersayang.
Hanya satu harapanku, semoga kau tak akan pernah kehilangan cahayamu. Biarlah kau tetap menjadi burung pemangsa yang terbang tinggi di angkasa. Tak apa, aku memang hanya ikan di lautan sejak semula. Aku hanya bisa menatap dari dalam laut, mengamati jarak yang luas di antara kita. Menunggu saat kau akan terbang mendekat, meski tahu diriku terancam.
Terima kasih atas segala kenangan, dan aku berharap suatu saat nanti aku akan dapat mengucap “aku mencintaimu” secara langsung kepadamu.

Hingga aku dapat menjadi “Wanita Terbaik” bagimu, sampai jumpa “Ridho Orangtua”. =)

Monday, June 13, 2011

Best Friend, Lovers, or Enemy?




hey blog,
it's been a long time ne, since the last time I wrote. A lot things has happened, and sometimes it's just beyond my control.
I and Fauzi is no longer close friend, we remained silent, but now we're trying to build our friendship back.

As I said, a lot of things happened. One of my bestfriend likes him, and now she can't live without him. She gets jealous, gets sad even more easily than me, and what's bad for her, now she's hating the girls that are close with him. It is not good for her, for him, for me, for everyone else.
And now it's become very complicated.

In a side, I was very used to be with him most of the time, even people knew us as couple, even though we're not. But when she came, and she needed him more than me, I knew I have to let go.
She is my best friend, and he is too. They seem to have interest on each other. I have to let go.
I have to support them, and remain as good friend for both of them.

But to be honest, it's lonely.
It was... kinda hard to be used to be alone when usually I have someone to accompany me. Someone that gave most of his spare time only to me. But then he gives it to her now.

Not that I complained, cos we can't rule somebody's heart rite?
I also fall for my senior, that's can't be complained.

But, I don't know...
I hate my current self. Sometimes I'm hating on her, cos not only she hurt my feeling without she even knew, she wants his attention so much yet she rubs it in front of him. Sometimes myself can't take it. After all, we did have 'history'. I used to like him, and we were good before this happened.

Sometimes I'm hating him for being insensitive and so coward. For being unable to decide n good to every girls.
I hate myself for not being honest n ikhlas, for hating my own best friends.

And now she asked for attention, for love, for... everything. And my other friend said let's pay more attention to her?

Do my world even have to revolve around her? This is my life isn't it?
I'm starting to lose my identity slowly. I just can't take it no more sometimes. I want to run away to the place where nobody knows me and just start new life. But I know, it's only running away from trouble., not solving it.

I DO love both of them, but I am disappointed with my current self. I'm not mature enough for accepting the fact. I don't know how many times I shed tears (like now) because of this problem, they didn't know about it.
Because I never tell them.

I hate to be seen as a weak girl.

Oh blog, when will I become a strong and mature girl?
I can only be honest only to you. T___T
Cos I don't think there will be anybody who will listen to me and be on my side, all of my friends are on her side and yeah, thus I shouldn't tell about it.


Spring 2012, I, Talitha Khairunisa Irsan, will be going to Kagoshima, Japan, for a student exchange for a year. And there I will start new life.

amen Ya Allah.

Saturday, May 08, 2010

along the night

along the night, my mind wanders off.
Maybe it because I just finished watching 'The Lovely Bones', so I knew how it feels to lose somebody, to love somebody you can't have back, to learn to let go, to keep loving although the one we loved has gone.
Maybe it because I'm the only one person who left awaken at this time, and I feel lonely. I miss the feeling to be loved, to have a really close friend.
Maybe it because May 7th is my mum's birthday and suddenly I miss her so.
Maybe it because today is the announcement of SIMAK-UI, and since Diaz's little sister enrolled I feel nervous too. Maybe I shared the same connection like I had between me and her brother two years ago.
Maybe I miss my senior, Ridho, Fauzi, my ex-boyfriend, Salman, and the one I can't have, you-know-who?
Or maybe I am simply being distressed by this resume task and other thing I've got to do?

I don't know.
But I know I miss you, my blog. I miss the moments I shared my feelings to you.
And sometimes I'll re-read my writings and cried or smiled while recalled those memories.

Time sure goes by. We can't stop it.
But why can't I be happy by all of these gift God has given to me?
I need somebody to be loved and who loved me sincerely.
I'm tired with my 'going-nowhere' relationship with Fauzi. Why don't we make it real? Why don't we try to build our relationship?
Why don't my crush respond me back?

Why do I never satisfied?
Why do I such a loser?
I hate myself. I HAVE TO CHANGE.

NOW.

And thus, I shall end this monologue.

Saturday, February 13, 2010

가슴이아파...

I am a pathetic girl.

Because after I broke up with my boyfriend (yes, I already broke up), even when there's other men for me, all I think about is him.

I am a pathetic girl.
Because we're already on our own way, and he doesn't even care about me n my life anymore, and still I want him to be in my future.

I am a pathetic girl.
Because he already had a girl friend, and now I'm single.

I am pathetic girl.
Because when my chest feels like it going to burst and I feel like crying, he doesn't know anything about me.
Because when I think about him, he doesn't think of me back.
Because when I want him badly, he'll say that he doesn't want me back if he knows about my feeling.
Because I am nothing but a friend for him.


And now I have nobody to share my burden.
I'm so sorry my ex-boyfriend, because I can't appreciate your affection.
Because I don't think I can fit you, that's why I made you tired and asked for break up.
Mianhada.



.I want to cry. Do I have to bear this love forever?
디아스, 사랑해...

Saturday, October 31, 2009

October 30th 2009, mixed up feelings

indonesia:

OMGOMGOMGOMGOMG!!!!!!!


kemarin gue jalan bareng diaz ke senayan city. sumpah yah, itu macetnya naudzubillah min dzalik banget. Akhirnya sebelum nyampe di ratu plaza gue memilih untuk turun dan jalan kaki aja. Maaf ya Diaz, lu nunggu lama banget. hahaha
Dan padahal gue udah pengen banget nonton film 9 tapi dasar si kunyuk satu itu, dia malah bilang nggak usah nonton aja, mendingan makan. >__<
ya udah deh akhirnya kita makan doang di sana.

dan terjadilah momen-momen yang gue suka pas kita jalan pulang. entah cuma gue yang geer, atau emang benar, dia jadi lebih baik sama gue. apalagi waktu di busway, rambut gue dikucek. udah kaya anak kecil aja. huahaha
nggak tau ya kenapa, gue jadi suka kalo diperlakukan kaya anak kecil sama teman2 cowok gue tapi di saat yang sama mereka juga tahu kalau gue itu dewasa juga. HAHAHA *pgn ketawa gw*
dan finally gue bisa menikmati wangi yang sangat gue rindukan itu.

just wanna say, diaz... gue gak puas jalan sama lo. gue kangen berat sama lo. gue pengen ngobrol banyak n main2 sama lo sebenarnya. maklumlah, seperti yang lo bilang, psikologis gue masih 8 tahun. ahahaha

kalo tentang fauzi,
di satu sisi gue berpikir jahat, gue berharap dia nggak bakal awet sama ceweknya yang 3 tahun lebih tua itu *gosh*, tapi di satu sisi gue juga kagum sama cintanya untuk pacarnya itu. hiks~
ya udah ya boo, kita kaya gini aja dulu. hahaha
hidup bonobo dan benebe! :P

oh ya, bisa dibilang gue sempat cekcok sedikit sama cowok gw, gara-gara gue blg gue mau jalan sama diaz dan nginep di tempat boim.
terserah deh gue mau dibilang cewek ga bener keq, dia mau kecewa sama gue keq, yang penting gue bisa jaga diri dan kenyataannya gue emang nggak ngapa-ngapain. pengen putus rasanya, tapi sayang banget ni masih 2 bulan.
tapi hati gue udah kbagi tiga gini. ah, eottoke?? =X

english:

OMGOMGOMGOMGOMG!!!!!!!

last nite I went with diaz to Senayan City. Oh man, the traffic jam really got my nerves. So before I reached Ratu Plaza I decided to go out of d bus and walked to Senayan City. Sorry Di, u have waited so long. hahaha
And eventhough I really wanted to watch '9', but because of that troubled kid that said "let's not watch. I'm hungry, let's eat." we didn't watch the movie. We went eat to Pepperlunch. *and it's damn expensive (for me). it's like feeding 12 people's portion to 1 man*


and there happened moments I liked when we walked home. I dunno whether I was being overconfidence or it's really true, he became nicer to me. And when we're on busway, before we separated, he messed with my hair. Oh God, I dunno why but I loved being treated like a kid with my male friends while in d same time they know I'm mature too. HAHAHA
and finally I could enjoy the scent that I missed so.
I love that scent. Diaz's perfume. saranghamnida.


just wanna say diaz, I haven't satisfied yet having our time together with you. I really really miss you. I want to talk a lot with you, talk about life, talk about love, talk about the past and the future. Yeah, Like you said, my phsycologist is still like 8 years old girl. haha

about fauzi...
one side of my side thinks evil, there is a part of me that wishes he will breakup with his girlfriend, but on the other side I feel amazed with his love for his 3 years older girlfriend. hiks~
boo, i guess it's better to stay like this for a moment, i think? hahaha *but i'm jealous with risa* >_<
viva bonobo and benebe!! XDD


oh yeaahh... we could say that I have a lil fight with my own boyfriend. it because I said to him I wanna go with Diaz and stay at Boim's place.
it's up to him whether to think I'm a bad girl or feel disappointed with me, what's important is I can take care of myself and I really did nothing. I want to breakup but geez.. we're just got together for 2months only.
but my heart has already parted for 3 people. ah, eottoke??


Monday, October 26, 2009

during 18 years of my life

it's been 18 years since my born.
18 years ago, on October 26th 1991, a woman strove hard, gambled on her life to give birth to her first daughter. And then a little girl made her first crying as soon as she was given born. Her parents were very happy on that day (or I supposed to think). They gave her name 'Talitha' which is mean 'girl' and 'Khairunisa' which is mean 'the best woman'. They prayed that their daughter would be the best girl in the world, be a shalihah woman, and could make them proud.

18 years has passed.
I still couldn't be 'Talitha Khairunisa'. Couldn't be the best girl as my parents expected yet.
Mianhae, I'm sorry, gomennasai. Thousands of apologize words couldn't speak my sincere apologize.
Kamsahamnida, thank you, arigato, merci. Thousands of words also couldn't speak my grateful for my parents for giving birth and raising me until this second.
Eventhough I am not their best girl, eventhough I haven't reach anything yet, eventhough I couldn't make them proud and happy, they still give me lots of their love.

Thanks for all of your love, dear mother and father.
I promise to be a better person day by day. I will try to be 'Talitha Khairunisa' so I can make you proud. I am sorry for all my behaviors that disappointed you. I am still a kid afterall, I still need your guidance.
I love you, dear mother and father, I will always love you. :)

and for all of my best friend, friend, siblings and boyfriend, thanks for all of your pray and greetings.
I love you all. :)

Sunday, October 18, 2009

broken heart, mind & soul

it hurts, when at the morning I dreamt him confessed to me, but in the real life, he actually already had a girlfriend. three years older than him.
it hurts when he is in relationship, but still act nice to other girls like me. Feels like he's giving hope but actually he didn't.
I felt bad for his girlfriend. I felt bad for myself. I dunno lah, I felt sad, I want to cry, but I have to smile in front of him.
I dunno how to act again, I dunno how to do. Should I kept this feeling or just forget him and learn to love my own boyfriend? TT_____TT

Saturday, August 08, 2009

is it wrong to feel sad because of them??




SHINee say goodbye. hiks. I'm sad because there won't be Juliette anymore. eventhough I'm not a fan of Juliette remix but in the same time I'm glad because for a moments they are far from shitdae. yeah, I hate them so much. who cares about those stupid sone! I hate them for stealing my Romeos. I hate SHINee for not refuse SNSD. I hate korean Shawol for not bashing shitdae. I hate all netizens who make shinee-generation pairing. S.T.O.P I.T!!! it's hurt when you love someone you can't have. I hate SHINee as much as I love them. I hate to love them. But I just can't not to love them. X((((( well. good luck on Japan. and I wish shitdae die soon. amen.




how can I not love them?

Monday, August 03, 2009

when I have to choose

If adult have to be realistic, I don't want to be an adult.


Can't I dream Can't I dream Can't I dream??
I want to be a movie director!! I know maybe I will find a hard time when I look for job, I know maybe I am not talented enough to be a famous people, I know I have to be realistic coz I AM AN ADULT. I know as a woman, I have to think about my future family, my future children and husband. And to live in entertainment world means your daily schedule is irregular. Think about my children, think about my husband, think about myself!!

Everyone told me "it's up to you to make choice. you're qualified enough to be veterinary or director."
Some people wants me to be a movie director, others want me to be a vet.
If it's possible, I want to be both, coz both are my dreams. But time can't let me choose both of them. I have to choose one.
But everybody keep saying "it's up to you." But I noe they (esp my parents) want me to be a vet rather than director. And the others say "Up to you. Up to you." that means they don't care about me as long as it doesn't affect any part of their lives.

I am very confused rite now. And he doesn't help either. But thanks to him, I can release my stress a bit. I believe in God, I believe when I work hard there will be a way.
Thanks to SHINee who help me to make sure about which way I want to choose. But my father keep insist me to take IPB.

It's not that I didn't thank God for letting me pass the SNMPTN and get my dream university. But still, my future dreams is to build a k-pop clothes shop while make movie.

Can't I dream? God, which way I should choose?
I don't want to make mistake in choosing my way.
I'm tired of crying. I'm tired of being left alone as a kid while my friends have grown up already.

"If only we could stop the time, I want to freeze the time in my childhood and live forever in it."

thanks to SHINee's words. You shine for me guys! :)
What do you want to say to those that want to become a star?
Onew: Cheers! Their dream is really big
Taemin: If you work hard, then everything will be fine. Fighting!
Jonghyun: Don’t give up.
Key: My answer is the same as Jonghyun-hyung’s, don’t give up!
Minho: Mine would be, “If you don’t give up your hopes and dreams, then there would always be a good result/ending.”

Wednesday, July 22, 2009

when past meets future

When past meets future, it is called as present. :)

Maybe in his eyes, FUTURE is EVERYTHING. You shouldn't look back to the fast too long.
He even said to me, "Which one is more important, past or future?"

For me, I will never be able to forget my past and just look at the future. Past and Future can't be separated.
PAST is EVERYTHING, PRESENT is EVERYTHING, FUTURE is EVERYTHING.
I carry my past, reflect on my past, walk on my days in the present time, and set target for future.

I see how funny God sets our destiny, especially my destiny.
I left all of my old friends in Tytyan Kencana 8 years ago. I left all of my old friends in SD Mutiara 8 years ago.
And now, fate let us meet again.

One by one, I found my old mates. Started with Diaz, who came back from Singapore a year ago.
And then Ufi. Henza. Followed By Yolanda. And Damar.

And nowadays, more friends found. I've been looking for Amalia for years and Salman also. Not to forget Dita n Deska.
And now I found them all.
I also found my monkey-loves from primary school. LOL

How destiny could be so beautiful. And along with the old friend treasures, as I keep walking to the future, I meet new friends. For example, when I met Diaz, I made friends with Suren, Kai, Syarif, Ezah, Dimas, etc.
When past and future blend, it calls present.
When past and present are together, they lead to future. :)

I'm happy. For meeting such people like these.
Thank God. Thank facebook. LOL

and still, I won't forget the past.

Sunday, July 19, 2009

random words

satu hal lagi yang dapat aku petik dari dunia k-pop.

Ada fans fanatik, ada yang tidak.
Ada fans cerdas, ada yang tidak.
Ada fans yang annoying, ada yang tidak.

Fans yg fanatik akan cemburu berlebihan ketika melihat idolanya dekat dgn artis brlawanan jenis.
Cemburu? Wajar. Tapi tidak berlebihan.
Selain itu, mereka akan mengagung2kan idolanya sdemikian rupa, dan menganggap artis lain lbih buruk dr idola mereka.

Fans yg pintar, dia akan mencaritahu kbenaran brita ttg artisnya.

Isaidlikedatcozihatestupidppl