Jika ada sesuatu yang aku sesali dan aku benci kehilangannya, hal itu adalah kenangan dan sahabat yang hilang.
Suatu kenangan selalu bersifat personal, karena itu suatu kenangan tidak boleh dibagi kepada orang asing. Karena orang yang tidak terlibat dalam kenangan tersebut tidak akan mengerti, betapa berharga dan personalnya suatu kenangan tersebut. Seburuk apapun suatu kenangan, hal itu tetap bersifat personal. Hal itu lah yang selalu aku pegang.
Lalu sahabat yang hilang, aku sudah merelakannya.
Seorang sahabat sejati tidak akan pernah pergi, karena itu aku merelakannya pergi.
Aku merelakannya pergi karena ia berani menyakiti sahabatnya sendiri demi kepuasannya pribadi. Aku merelakannya pergi karena aku tahu, suatu saat nanti ia akan menyakitiku juga. Dan aku merelakannya pergi karena dia mudah digoyahkan.
Seorang sahabat yang lain, aku tidak tahu mengapa, namun sepertinya ia menjauhiku.
Aku tidak tahu apa kesalahan yang kuperbuat, namun aku juga tidak berniat untuk mencari tahu. Ia telah aku relakan pergi pula, bersama sahabatku yang lain. Mungkin aku tidak bisa mengerti dirinya, aku tidak bisa bahagia untuknya, aku lelah harus mengikuti gaya hidupnya.
Sudahlah, hidup ini sudah terlalu banyak dipenuhi drama.
Aku tidak membenci mereka, tidak bermasalah dengan hubungan mereka, tidak peduli dengan mereka. Tidak bermasalah pula dengan sahabat yang telah aku relakan sebelumnya.
Hanya saja bila memang hubungan persahabatan kami ini memang tidak bisa diteruskan, lebih baik benar-benar kita akhiri. Lalu aku dan dia akan menjadi kedua orang asing yang berada di suatu lingkungan yang sama. Kenal, namun tidak benar-benar mengenal. Kenal namun tidak perlu saling mempedulikan kehadiran satu sama lain.
Aku tidak masalah apakah kami akan terus menjadi orang asing seperti ini atau tidak. Satu hal yang aku sedikit sesali adalah dengan begitu hubunganku dengan teman-teman yang lain pun akan menjadi sedikit canggung. Kecanggungan itu yang aku benci.
Sudahlah. Tak usah menebar benih kebencian.
Hidup ini sudah terlalu pelik untuk ditambahi permasalahan sepele seperti ini.
Yang jelas, jika ada seseorang yang harus menunduk kalah, orang itu bukan aku.
hello.
welcome to my blog.
its content maybe not important, just about my daily life, my thought, my feelings, etc.
read if u don't mind, on the other hand just leave :)
Friday, June 01, 2012
Thursday, March 08, 2012
Jika
Setelah sekian lama tanpa komentar, tanpa penyesalan, tanpa ada apapun, tiba-tiba aku terpikir...
Apa jadinya jika dulu, orang ketiga itu tidak muncul?
Apa jadinya ketika orang yang kuanggap sahabat itu tidak muncul dan mendekatinya?
Apa jadinya ketika mereka tidak melakukan pendekatan di belakangku?
Apa jadinya apabila hingga kini aku masih bersamanya, tanpa ada gangguan dari orang itu?
Akankah semua jadi lebih baik untukku, untuknya, dan untuk orang itu?
Apabila dulu ia tidak menusukku dari belakang, dan aku tidak berpura-pura tersenyum seolah tidak peduli, akankah aku dan orang itu masih bersahabat hingga kini?
Akankah persahabatan kami diwarnai rasa peduli yang tulus, bukan penuh kemunafikan seperti saat ini?
Namun jika saat ini aku masih bersamanya,
aku tidak akan pernah bisa memilih untuk bersama dirinya,
laki-laki yang aku sayangi.
Jika ini semua tidak terjadi,
aku tidak akan tahu sifat asli orang itu
Sungguh, demi apapun juga,
aku tidak pernah merasa muak kepada seseorang semuak aku kepada orang itu saat ini.
Sungguh aku tidak pernah menggunakan kata 'orang itu' untuk mendeskripsikan seseorang yang teramat dekat denganku -- ini sebuah penghinaan, di mataku, aku pun tak tahu mengapa aku berbuat seperti ini
Tak pernah sebelumnya, aku pernah berharap seseorang akan lenyap, hilang dari pandanganku. Sungguh aku pun takut dengan sisi diriku yang sangat, sangat jahat
Mungkin aku terlalu lugu
Mungkin aku terlalu idealis dan naif
Tapi sungguh, selama aku menjalin pertemanan dengan teman-temanku yang lain,
Aku tak pernah sebegini putus asanya
Aku tak tahu lagi ini kian ke berapa aku memutuskan untuk diam dan menjauh
Hanya karena takut mengeluarkan kata yang menyakitkan hatinya
Meskipun itu fakta, fakta yang pahit
Namun aku tahu,
Pada akhirnya hanya aku lah yang salah
Karena di matanya, semua yang ia lakukan memiliki alasan yang benar
Ia tidak akan pernah mendengar pendapat orang
Karena ia berhak bahagia, dan sekuat tenaganya ia akan berusaha mempertahankan kebahagiannya
Namun bukankah aku juga berhak bahagia?
Aku tidak pernah bermaksud merebut kembali apa yang telah lepas, tidak.
Aku tidak akan pernah sepicik itu
Namun salahkah aku apabila aku menginginkan persahabatan yang murni?
Sahabat yang tidak hanya ada ketika ia sedang butuh
Sahabat yang tidak membelimu ketika ia sedang senang
Sahabat yang siap mengangkatmu ketika kau terpuruk
Sahabat yang tulus berbahagia ketika dirimu bahagia
Sahabat yang memperhatikan setiap detil ceritamu, berusaha mengingat detil kecil dari hidupmu
Atau setidaknya berusaha untuk mencari tahu tentang dirimu
dan tidak akan pergi di saat kau benar-benar terpuruk.
Mungkin aku tertipu oleh fatamorgana
Ilusi mata yang telah ia desain sedemikian rupa
Mungkin kacamata ini terlalu bias oleh airmata
Sehingga kenyataan yang sesungguhnya kini tidak jelas
Kehilangan dua sahabat sekaligus itu sungguh,
sakit rasanya.
Dan kini,
setelah semua ungkapan jika, andai, dan apabila dikubur dalam-dalam,
para pelakon kembali mengenakan topeng mereka
dan tirai panggung sandiwara pun siap dinaikkan.
Selamat datang di sandiwara kehidupan.
Apa jadinya jika dulu, orang ketiga itu tidak muncul?
Apa jadinya ketika orang yang kuanggap sahabat itu tidak muncul dan mendekatinya?
Apa jadinya ketika mereka tidak melakukan pendekatan di belakangku?
Apa jadinya apabila hingga kini aku masih bersamanya, tanpa ada gangguan dari orang itu?
Akankah semua jadi lebih baik untukku, untuknya, dan untuk orang itu?
Apabila dulu ia tidak menusukku dari belakang, dan aku tidak berpura-pura tersenyum seolah tidak peduli, akankah aku dan orang itu masih bersahabat hingga kini?
Akankah persahabatan kami diwarnai rasa peduli yang tulus, bukan penuh kemunafikan seperti saat ini?
Namun jika saat ini aku masih bersamanya,
aku tidak akan pernah bisa memilih untuk bersama dirinya,
laki-laki yang aku sayangi.
Jika ini semua tidak terjadi,
aku tidak akan tahu sifat asli orang itu
Sungguh, demi apapun juga,
aku tidak pernah merasa muak kepada seseorang semuak aku kepada orang itu saat ini.
Sungguh aku tidak pernah menggunakan kata 'orang itu' untuk mendeskripsikan seseorang yang teramat dekat denganku -- ini sebuah penghinaan, di mataku, aku pun tak tahu mengapa aku berbuat seperti ini
Tak pernah sebelumnya, aku pernah berharap seseorang akan lenyap, hilang dari pandanganku. Sungguh aku pun takut dengan sisi diriku yang sangat, sangat jahat
Mungkin aku terlalu lugu
Mungkin aku terlalu idealis dan naif
Tapi sungguh, selama aku menjalin pertemanan dengan teman-temanku yang lain,
Aku tak pernah sebegini putus asanya
Aku tak tahu lagi ini kian ke berapa aku memutuskan untuk diam dan menjauh
Hanya karena takut mengeluarkan kata yang menyakitkan hatinya
Meskipun itu fakta, fakta yang pahit
Namun aku tahu,
Pada akhirnya hanya aku lah yang salah
Karena di matanya, semua yang ia lakukan memiliki alasan yang benar
Ia tidak akan pernah mendengar pendapat orang
Karena ia berhak bahagia, dan sekuat tenaganya ia akan berusaha mempertahankan kebahagiannya
Namun bukankah aku juga berhak bahagia?
Aku tidak pernah bermaksud merebut kembali apa yang telah lepas, tidak.
Aku tidak akan pernah sepicik itu
Namun salahkah aku apabila aku menginginkan persahabatan yang murni?
Sahabat yang tidak hanya ada ketika ia sedang butuh
Sahabat yang tidak membelimu ketika ia sedang senang
Sahabat yang siap mengangkatmu ketika kau terpuruk
Sahabat yang tulus berbahagia ketika dirimu bahagia
Sahabat yang memperhatikan setiap detil ceritamu, berusaha mengingat detil kecil dari hidupmu
Atau setidaknya berusaha untuk mencari tahu tentang dirimu
dan tidak akan pergi di saat kau benar-benar terpuruk.
Mungkin aku tertipu oleh fatamorgana
Ilusi mata yang telah ia desain sedemikian rupa
Mungkin kacamata ini terlalu bias oleh airmata
Sehingga kenyataan yang sesungguhnya kini tidak jelas
Kehilangan dua sahabat sekaligus itu sungguh,
sakit rasanya.
Dan kini,
setelah semua ungkapan jika, andai, dan apabila dikubur dalam-dalam,
para pelakon kembali mengenakan topeng mereka
dan tirai panggung sandiwara pun siap dinaikkan.
Selamat datang di sandiwara kehidupan.
Sunday, February 05, 2012
maaf
jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara denganmu
maka aku akan meminta maaf dari lubuk hatiku yang terdalam
jikalau sekiranya aku punya salah (yang aku yakin pasti ada)
jikalau sekiranya aku sangat mengganggumu
jikalau aku membuatmu membenciku
jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara denganmu
maka aku akan berterima kasih dari lubuk hatiku yang paling jujur
karena darimu aku belajar untuk mensyukuri alam ini
karena darimu aku belajar untuk mencinta tanpa pamrih
karena darimu aku belajar banyak hal mengenai hidup
jika saja aku
diberi kesempatan sekali lagi untuk berbicara dan bertemu denganmu
maka kali ini tak akan ragu aku untuk
mengatakan perasaanku yang sebenarnya
mengutarakan isi hati yang terpendam lebih dari dua tahun lamanya
bahwa aku menyayangimu
entah sebagai kakak, sahabat, atau murni sebagai lelaki
yang ku tahu hanya ada dirimu dalam masa depanku
hanya ada sosokmu yang kuinginkan di sampingku
namun semua itu tak akan bisa terjadi
bila aku tak bisa berbicara denganmu lagi
maka kumohon,
usai lah marahmu, hapuskan egomu
terima teleponku
karena aku sungguh mengkhawatirkanmu kawan.
maafkan aku karena kelancanganku
aku hanya ingin kau tahu bahwa aku peduli.
(5 Februari 2012, untuk dirimu.)
Friday, February 03, 2012
15 Minutes Conversation
15 Minutes Conversation
“Halo, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Jawabmu pendek.
“Apa kabar?”
“Aku merasa normal.”
“Merasa normal?” Aku mengulum senyum. “Memangnya kamu tidak
normal?”
“Kata orang aku tidak normal.”
“Itu kan kata orang, bagaimana menurutmu?”
“Aku merasa baik-baik saja. Namun orang-orang tetap
menyuruhku minum obat.”
Aku diam.
“Aku terdengar cadel nggak?”
“Nggak tuh. Memang kenapa?”
“Gara-gara obat ini lidahku jadi cadel.”
“Aku mendengarmu normal.”
“Benarkah?”
“Ya. Percayalah padaku.”
Lalu keheningan kembali mengisi percakapan kami. Percakapan
ini tidak pernah terpikir akan menjadi rutinitas di antara aku dan dia. kami
tak pernah terbiasa meluangkan waktu untuk bercakap-cakap, namun kini aku
setidaknya berusaha untuk menghubunginya beberapa hari sekali.
“Aku rindu kampus kita.” ucapnya memecah keheningan. “Aku
bosan di sini.”
“Kembalilah kalau begitu. Kapan kamu akan kembali?”
“Maret, mungkin. Atau April.”
“Secepat itu?”
“Ya, ada banyak urusan yang tertunda di sana.”
“Kamu sudah siap kembali?”
“Entahlah.”
Aku menghela napas.
“Mantapkan dulu hatimu. Aku tidak mau kamu mengulangi
kesalahan yang sama.”
“Setidaknya aku masih punya orang yang akan mendukungku
bukan? Benar begitu, Alina?”
Aku tersenyum getir. Bicara apa dia ini.
“Kau tahu pasti aku akan mendukungmu. tapi hanya jika kamu
benar-benar mantap. Aku tidak mau aku jadi gila karenamu.”
“Memang aku bisa membuatmu gila?”
“Sekarang pun rasanya aku sudah gila karenamu.”
“Hahaha…” Dirimu tertawa. “Jangan begitu.”
“Kalau begitu maka cepatlah sembuh, lalu kembali ke sini.
Kau tahu aku menunggu.”
“Aku tahu.”
“Alina, kamu mau sampai kapan duduk di pojokan seperti itu?”
Aku menoleh. Di ambang pintu kamarku, Ibu berdiri sambil
berkacak pinggang. Aku tersenyum.
“Daripada kamu melamun seperti itu, lebih baik kamu bantu
Ibu!”
“Ibu, aku sedang menelepon.” jelasku.
“Menelepon siapa? Lihat tanganmu, kamu bahkan tidak memegang
telepon genggam.”
Aku menatap kedua belah tanganku. Benar juga, satu-satunya benda
yang kupegang hanyalah secarik kertas bertuliskan deretan angka.
“Alina, sudahlah, berhenti berlaku seperti itu. Ibu khawatir
kalau Ibu harus membawamu ke psikiater.”
“Hahaha…” Aku hanya tertawa getir. “Ibu, tampar aku jika aku
berlaku seperti ini lagi.”
“Aku tidak ingin gila, Ibu. Namun aku lelah karenanya.”
Ibu memelukku erat. “Jangan khawatir Alina sayang, Ibu
pastikan untuk menjagamu. Bertahanlah.”
Aku mengangguk pahit.
15 menit percakapan kita
Rupanya hanya khayalan semata.
Sepucuk Surat Yang Tak Terkirim
Ketika tekadku bulat untuk meninggalkanmu,
Ketika mantap hatiku untuk fokus pada hidupku sendiri,
kabar itu datang.
Kalau kau ingin tahu apa rasanya, sungguh kabar itu bagai petir di siang bolong.
Tak terduga.
Kupikir jika selama ini kita jarang bertemu, itu hanya semata karena dirimu yang terlalu sibuk dengan urusanmu, dan aku yang sibuk dengan urusanku.
Lalu temanmu memberitahuku, bahwa dirimu tak pernah lagi hadir di kampus kita tercinta. Tak lagi ikut ujian. Dirimu sakit, ucapnya.
Kau tahu betapa cemasnya aku? Betapa khawatirnya diriku?
Dan ketika akhirnya aku bertemu denganmu (yang perlu kau tahu, susahnya minta ampun), kamu bilang padaku bahwa kamu memang sakit.
Sakit jiwa.
Tahukah kamu bahwa saat itu mati-matian aku menahan emosi dan air mata?
Saat itu aku marah kepadamu. Marah karena kamu tidak pernah bilang apa-apa. Marah karena aku tidak pernah menyadarinya. Marah karena tiba-tiba kamu bilang kamu harus pergi--cuti kuliah 2 semester.
Dan dirimu hanya tersenyum lemah, seraya mengucap kata terima kasih.
Bagaimana aku bisa marah kepadamu?
Aku kalut.
Ingatkah dirimu, kak? Saat itu pertama kalinya aku marah kepadamu, ketika biasanya aku selalu saja tersenyum.
Saat itu aku setengah berteriak kepadamu, mungkin suaraku tidak keras, namun setidaknya nadaku seolah menghardikmu. Maaf.
Aku bilang, mengapa kamu tidak pernah bilang apa-apa? Mengapa tidak pernah berbagi masalahmu? Mengapa tidak pernah cerita kepada orang lain? Padahal banyak sekali orang yang khawatir denganmu. Banyak sekali orang yang sayang kepadamu.
Aku dan teman-temanmu yang lain, selalu berusaha menguatkan dirimu. Karena kita senasib, dan kita harus saling menguatkan.
Maka kuatlah kak, kuatlah
Aku tahu kamu bukan laki-laki yang lemah
Laki-laki yang dulu kukenal adalah laki-laki yang di matanya terpancar semangat dan rasa keingintahuan
Yang dari bibirnya selalu mengalir lagu-lagu bernada indah
Yang meski selalu diam, namun kala ia bicara selalu mengalir kata-kata bijak dan cerdas
Kuatlah kak,
Kamu tak sendiri
Aku akan selalu ada, begitu pun teman-teman yang lain
Adik-adik kelasmu yang selalu kagum padamu
Kakak-kakak kelasmu yang menyayangi adik kelasnya satu ini
Teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangatimu
Ingatlah,
manusia tidak hidup sendiri
Dan apabila kamu tak sanggup menghadapi masalahmu sendiri
Meminta bantuan orang lain bukan berarti lemah
Kuatlah,
karena aku di sini pun mencoba untuk kuat
Mencoba untuk bertahan dan memutuskan untuk percaya
Dan kini, semua tergantung kepadamu
Selamat berjuang
Kami mendoakan kesembuhanmu
Aku berjuang melawan rindu
Dan saat nanti dirimu kembali,
Yakin lah,
Aku akan tetap di tempat itu dan menunggumu
(untuk laki-lakiku tersayang)
Ketika mantap hatiku untuk fokus pada hidupku sendiri,
kabar itu datang.
Kalau kau ingin tahu apa rasanya, sungguh kabar itu bagai petir di siang bolong.
Tak terduga.
Kupikir jika selama ini kita jarang bertemu, itu hanya semata karena dirimu yang terlalu sibuk dengan urusanmu, dan aku yang sibuk dengan urusanku.
Lalu temanmu memberitahuku, bahwa dirimu tak pernah lagi hadir di kampus kita tercinta. Tak lagi ikut ujian. Dirimu sakit, ucapnya.
Kau tahu betapa cemasnya aku? Betapa khawatirnya diriku?
Dan ketika akhirnya aku bertemu denganmu (yang perlu kau tahu, susahnya minta ampun), kamu bilang padaku bahwa kamu memang sakit.
Sakit jiwa.
Tahukah kamu bahwa saat itu mati-matian aku menahan emosi dan air mata?
Saat itu aku marah kepadamu. Marah karena kamu tidak pernah bilang apa-apa. Marah karena aku tidak pernah menyadarinya. Marah karena tiba-tiba kamu bilang kamu harus pergi--cuti kuliah 2 semester.
Dan dirimu hanya tersenyum lemah, seraya mengucap kata terima kasih.
Bagaimana aku bisa marah kepadamu?
Aku kalut.
Ingatkah dirimu, kak? Saat itu pertama kalinya aku marah kepadamu, ketika biasanya aku selalu saja tersenyum.
Saat itu aku setengah berteriak kepadamu, mungkin suaraku tidak keras, namun setidaknya nadaku seolah menghardikmu. Maaf.
Aku bilang, mengapa kamu tidak pernah bilang apa-apa? Mengapa tidak pernah berbagi masalahmu? Mengapa tidak pernah cerita kepada orang lain? Padahal banyak sekali orang yang khawatir denganmu. Banyak sekali orang yang sayang kepadamu.
Aku dan teman-temanmu yang lain, selalu berusaha menguatkan dirimu. Karena kita senasib, dan kita harus saling menguatkan.
Maka kuatlah kak, kuatlah
Aku tahu kamu bukan laki-laki yang lemah
Laki-laki yang dulu kukenal adalah laki-laki yang di matanya terpancar semangat dan rasa keingintahuan
Yang dari bibirnya selalu mengalir lagu-lagu bernada indah
Yang meski selalu diam, namun kala ia bicara selalu mengalir kata-kata bijak dan cerdas
Kuatlah kak,
Kamu tak sendiri
Aku akan selalu ada, begitu pun teman-teman yang lain
Adik-adik kelasmu yang selalu kagum padamu
Kakak-kakak kelasmu yang menyayangi adik kelasnya satu ini
Teman-teman yang selalu mendukung dan menyemangatimu
Ingatlah,
manusia tidak hidup sendiri
Dan apabila kamu tak sanggup menghadapi masalahmu sendiri
Meminta bantuan orang lain bukan berarti lemah
Kuatlah,
karena aku di sini pun mencoba untuk kuat
Mencoba untuk bertahan dan memutuskan untuk percaya
Dan kini, semua tergantung kepadamu
Selamat berjuang
Kami mendoakan kesembuhanmu
Aku berjuang melawan rindu
Dan saat nanti dirimu kembali,
Yakin lah,
Aku akan tetap di tempat itu dan menunggumu
(untuk laki-lakiku tersayang)
Sunday, December 11, 2011
Berpisah Sejenak
Dan sebenarnya aku telah letih akan semua ini.
Letih aku merasa rindu sepihak.
Letih aku merasa bahagia sepihak.
Letih karena selalu mengira, bahwasanya apa yang sebenarnya ada dalam benakmu. Apa yang kamu pikirkan tentangku?
Bukannya aku tidak sabar menunggu, sungguh tiada laki-laki lain yang kuinginkan selain dirimu. Sungguh betapa ingin bibir ini mengucap aku mencintaimu. Namun selalu kutahan, hanya karena aku tidak ingin membebanimu.
Aku tahu, begitu banyak hal lain yang lebih penting dari hubungan ini. Aku pun berpikir sama. Karena itu ketika kamu berkata tunggulah, maka aku menunggu. Bahkan ketika kamu tidak berkata apapun, hati ini terus menunggu. Bukan aku yang mau, namun apa daya hati ini menolak yang lain.
Dan tanpa terasa, di masa depanku hanya ada kamu. Dan aku pun berlari ke arahmu, semula kencang namun kini tertatih, berusaha menggapai sosokmu yang entah mengapa, kian menjauh.
Adakah aku pernah terbersit dalam benakmu?
Sungguh, berapa kalipun aku mencoba berpaling, aku tak bisa.
Bukan aku letih menunggu, hanya aku takut, aku takut menganggumu.
Aku tahu tak ada tempat bagiku di benakmu kini. Aku mengerti, karena itu aku tak pernah meminta.
Bukankah aku selalu tersenyum saat bertemu denganmu? Dan menekan segala egoku.
Terima kasih atas secercah bahagia yang kurasa setiap kali ku bersamamu,. Terima kasih atas segala pengetahuan yang kau berikan padaku. Terima kasih karena menjadi penyemangatku.
Aku akan terus menunggumu, namun tak akan aku tunjukkan hingga saatnya nanti.
Biar Allah yang tahu, bahwa dalam setiap sujudku kudoakan dirimu. Lelakiku tersayang.
Hanya satu harapanku, semoga kau tak akan pernah kehilangan cahayamu. Biarlah kau tetap menjadi burung pemangsa yang terbang tinggi di angkasa. Tak apa, aku memang hanya ikan di lautan sejak semula. Aku hanya bisa menatap dari dalam laut, mengamati jarak yang luas di antara kita. Menunggu saat kau akan terbang mendekat, meski tahu diriku terancam.
Terima kasih atas segala kenangan, dan aku berharap suatu saat nanti aku akan dapat mengucap “aku mencintaimu” secara langsung kepadamu.
Hingga aku dapat menjadi “Wanita Terbaik” bagimu, sampai jumpa “Ridho Orangtua”. =)
Letih aku merasa rindu sepihak.
Letih aku merasa bahagia sepihak.
Letih karena selalu mengira, bahwasanya apa yang sebenarnya ada dalam benakmu. Apa yang kamu pikirkan tentangku?
Bukannya aku tidak sabar menunggu, sungguh tiada laki-laki lain yang kuinginkan selain dirimu. Sungguh betapa ingin bibir ini mengucap aku mencintaimu. Namun selalu kutahan, hanya karena aku tidak ingin membebanimu.
Aku tahu, begitu banyak hal lain yang lebih penting dari hubungan ini. Aku pun berpikir sama. Karena itu ketika kamu berkata tunggulah, maka aku menunggu. Bahkan ketika kamu tidak berkata apapun, hati ini terus menunggu. Bukan aku yang mau, namun apa daya hati ini menolak yang lain.
Dan tanpa terasa, di masa depanku hanya ada kamu. Dan aku pun berlari ke arahmu, semula kencang namun kini tertatih, berusaha menggapai sosokmu yang entah mengapa, kian menjauh.
Adakah aku pernah terbersit dalam benakmu?
Sungguh, berapa kalipun aku mencoba berpaling, aku tak bisa.
Bukan aku letih menunggu, hanya aku takut, aku takut menganggumu.
Aku tahu tak ada tempat bagiku di benakmu kini. Aku mengerti, karena itu aku tak pernah meminta.
Bukankah aku selalu tersenyum saat bertemu denganmu? Dan menekan segala egoku.
Terima kasih atas secercah bahagia yang kurasa setiap kali ku bersamamu,. Terima kasih atas segala pengetahuan yang kau berikan padaku. Terima kasih karena menjadi penyemangatku.
Aku akan terus menunggumu, namun tak akan aku tunjukkan hingga saatnya nanti.
Biar Allah yang tahu, bahwa dalam setiap sujudku kudoakan dirimu. Lelakiku tersayang.
Hanya satu harapanku, semoga kau tak akan pernah kehilangan cahayamu. Biarlah kau tetap menjadi burung pemangsa yang terbang tinggi di angkasa. Tak apa, aku memang hanya ikan di lautan sejak semula. Aku hanya bisa menatap dari dalam laut, mengamati jarak yang luas di antara kita. Menunggu saat kau akan terbang mendekat, meski tahu diriku terancam.
Terima kasih atas segala kenangan, dan aku berharap suatu saat nanti aku akan dapat mengucap “aku mencintaimu” secara langsung kepadamu.
Hingga aku dapat menjadi “Wanita Terbaik” bagimu, sampai jumpa “Ridho Orangtua”. =)
Monday, June 13, 2011
Best Friend, Lovers, or Enemy?

hey blog,
it's been a long time ne, since the last time I wrote. A lot things has happened, and sometimes it's just beyond my control.
I and Fauzi is no longer close friend, we remained silent, but now we're trying to build our friendship back.
As I said, a lot of things happened. One of my bestfriend likes him, and now she can't live without him. She gets jealous, gets sad even more easily than me, and what's bad for her, now she's hating the girls that are close with him. It is not good for her, for him, for me, for everyone else.
And now it's become very complicated.
In a side, I was very used to be with him most of the time, even people knew us as couple, even though we're not. But when she came, and she needed him more than me, I knew I have to let go.
She is my best friend, and he is too. They seem to have interest on each other. I have to let go.
I have to support them, and remain as good friend for both of them.
But to be honest, it's lonely.
It was... kinda hard to be used to be alone when usually I have someone to accompany me. Someone that gave most of his spare time only to me. But then he gives it to her now.
Not that I complained, cos we can't rule somebody's heart rite?
I also fall for my senior, that's can't be complained.
But, I don't know...
I hate my current self. Sometimes I'm hating on her, cos not only she hurt my feeling without she even knew, she wants his attention so much yet she rubs it in front of him. Sometimes myself can't take it. After all, we did have 'history'. I used to like him, and we were good before this happened.
Sometimes I'm hating him for being insensitive and so coward. For being unable to decide n good to every girls.
I hate myself for not being honest n ikhlas, for hating my own best friends.
And now she asked for attention, for love, for... everything. And my other friend said let's pay more attention to her?
Do my world even have to revolve around her? This is my life isn't it?
I'm starting to lose my identity slowly. I just can't take it no more sometimes. I want to run away to the place where nobody knows me and just start new life. But I know, it's only running away from trouble., not solving it.
I DO love both of them, but I am disappointed with my current self. I'm not mature enough for accepting the fact. I don't know how many times I shed tears (like now) because of this problem, they didn't know about it.
Because I never tell them.
I hate to be seen as a weak girl.
Oh blog, when will I become a strong and mature girl?
I can only be honest only to you. T___T
Cos I don't think there will be anybody who will listen to me and be on my side, all of my friends are on her side and yeah, thus I shouldn't tell about it.
Spring 2012, I, Talitha Khairunisa Irsan, will be going to Kagoshima, Japan, for a student exchange for a year. And there I will start new life.
amen Ya Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)